Bersikaplah seperti seorang pahlawan

Sudah lama sekali blog ini saya tinggalkan, sekitar beberapa bulan. Selain kesibukan kerjaan, mungkin jenuh juga jadi salah satu penyebabnya. Namun kali ini saya mencoba membangkitkan kembali semangat blogging saya yang sempat menghilang :)

Kali ini saya ingin membahas mengenai Hari Pahlawan yang kemarin baru saja kita peringati. Walaupun sejujurnya menurut saya peringatan hari-hari nasional seperti ini sekarang seperti sudah kurang terasa maknanya untuk sebagian besar warga Indonesia. Saya masih ingat dulu waktu kecil biasanya di TV diputar film tentang pertempuran 10 November di Surabaya. Tapi kayaknya sekarang sudah tidak ada lagi tayangan-tayangan tentang perjuangan seperti dulu. 

Berbicara mengenai pahlawan, kita semua tentu sudah tahu apa artinya pahlawan. Dan menurut saya semua orang bisa menjadi pahlawan, entah itu pahlawan bagi negara, kelompok, ataupun bagi keluarganya. Pahlawan bukan harus seseorang yang memiliki kekuatan super, bukan harus dengan mengangkat senjata. Karena menurut saya,  pahlawan adalah orang yang berani memperjuangkan sesuatu untuk hal-hal yang benar meskipun harus berjuang dengan pengorbanan

Di jaman modern sekarang, tentu saja banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi seseorang yang berjiwa pahlawan. Hanya saja yang menjadi lawan sekarang sebenarnya bukan lah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Keraguan, rasa malas, rasa takut, ketidakperdulian,  bahkan gengsi menjadi alasan kenapa kita enggan melakukan tindakan yang merupakan sikap seorang pahlawan. Contoh kecil, berapa orang dari kita yang akan mengulurkan tangan untuk membantu orang yang kesusahan di sekitar kita? Saya akui, saya sendiri memiliki rasa ketidakperdulian itu. Bahkan parahnya kita sering bersikap pura-pura tidak tahu saat ada orang yang membutuhkan pertolongan di sekitar kita.

Mirisnya, ketika pembulian menjadi sesuatu yang sangat lucu bagi sebagian besar orang. Lihat saja di TV sekarang, acara-acara komedi yang kebanyakan lawakannya menghina, memukul orang dengan styrofoam, dll, adalah sesuatu yang sangat lucu dan menjadi acara favorit masyarakat. Syukurlah, tidak semua orang Indonesia yang menyenangi budaya seperti itu, meskipun hanya sebagian kecil.

Intinya, sekarang ini kita diberi kenyamanan, tidak lepas dari jasa para pahlawan yang dulu mengorbankan segalanya untuk negara ini. Setidaknya kita harus berterima kasih dan bersyukur atas apa yang kita alami sekarang. Rasa terima kasih dan syukur itu tidak harus kita wujudkan dengan harus melakukan sesuatu yang besar,mulailah dengan hal-hal kecil. Karena hal-hal kecil bisa menjadi besar di mata orang lain. Bersikaplah seperti seorang pahlawan, entah itu untuk negara, masyarakat, keluarga, teman, bahkan diri sendiri. Kita tidak akan tahu saat kita mengulurkan tangan untuk hal yang kita anggap sepele, ternyata bagi orang tersebut adalah sesuatu yang sangat berarti.

Selamat Hari Pahlawan !

Curhatan : Hak dan kewajiban, sifat manja karyawan?

hak, kewajiban, karyawan, tuntutan pekerja, kaum pekerja, perusahaan, demonstrasi, buruh, ketenagakerjaan, serikat, pekerja, menuntut, menunaikan, egois, manja
Kembali dari liburan panjang dan menjalani lagi rutinitas sehari-hari membuat saya sedikit malas untuk menulis. Mungkin kesibukan dan lelah akibat pekerjaan saya jadikan kambing hitam penyebab berkurangnya semangat menulis saya ini. Padahal mungkin saya sendiri yang memang sedang tidak mood :). Tulisan kali ini mungkin tidak terlalu bermanfaat, hanya berisi curhat seputar tempat kerja saya. 

Ngomong-ngomong tentang pekerjaan, di kantor sedang hangat membahas satu permasalahan yang berhubungan dengan hak karyawan. Sekarang para pekerja  disini sepertinya sudah semakin melek dengan aturan dan peraturan ketenagakerjaan, jadi meskipun saya bekerja di perusahaan yang masih dalam tahap berkembang dan rata-rata SDM yang juga bisa dibilang cukup untuk perusahaan menengah kebawah, tapi disini sudah mulai berkembang pemikiran karyawannya mengenai masalah aturan dan peraturan ketenagakerjaan. 

Tentu menurut saya sendiri, yang juga bukanlah seorang lulusan perguruan tinggi, hal ini merupakan suatu kemajuan. Dengan kemampuan berpikir yang lebih luas, dan lebih mengerti tentang aturan, hukum dan masalah mengenai ketenagakerjaan, akan membuat para pekerja menjadi lebih mengerti tentang hak dan kewajibannya sebagai karyawan. Bahkan sebagian mengusulkan dibuat sebuah organisasi atau lebih tepatnya serikat untuk melindungi hak-hak karyawan agar kesejahteraan dan kenyamanan karyawan lebih terjamin.

Its okay, menurut saya. Tapi justru yang membuat saya bingung adalah ketika masalah hak dan kewajiban itu  tidak sejalan. Keseimbangan yang ingin saya lihat adalah ketika kita menuntut hak kita, namun juga tidak lupa untuk melaksanakan kewajiban terhadap perusahaan. Banyak kejadian seperti itu yang terjadi di tempat kerja saya. Mungkin akibat terlalu napsu menuntut haknya, jadi seolah melupakan kewajiban yang harusnya dilakukan untuk perusahaan. Saya sendiri bukan membela pihak pengusaha, karena saya juga adalah pekerja sama seperti mereka. Tapi terkadang saya juga merasa malas bahkan malu, ketika teman-teman saya begitu semangat melakukan tuntutan terhadap pengusaha, namun sehari-harinya lalai dalam memenuhi kewajibannya. Saat saya juga bertindak seperti itu dulu, pernah ada seseorang yang dekat dengan saya mengingatkan :
 "Jangan menuntut terus, kalau kerja kamu saja tidak pernah beres"
Menurut saya kata-kata itu benar, perusahaan juga memiliki hak terhadap karyawan, dan itulah kewajiban bagi kita. Yang sering saya lihat disini adalah ketika seseorang yang berkali-kali melakukan pelanggaran bahkan sebenarnya bekerja di bawah standar, namun selalu berada di garis terdepan saat menuntuk haknya. Miris rasanya, sebagai sesama pekerja, saya akan mendukung ketika kita menuntut sesuatu yang memang pantas dilakukan setelah menunaikan kewajiban. Namun ketika kita hanya berkoar-koar tanpa melaksanakan kewajiban, saya rasa itu hanya bentuk keegoisan dan sifat manja sebagai seorang pekerja.

Bukan berarti saya disini menulis ini sebagai seorang yang sangat benar dan baik, namun saya hanya merasa gerah dengan tingkah orang-orang yang hanya menuntut haknya dan melupakan kewajibannya. Saya sendiri berusaha untuk berubah menjadi lebih baik dalam memenuhi kewajiban sebagai karyawan, dan akan tidak setuju kenyamanan dalam bekerja terganggu oleh orang-orang yang hanya tau menuntut saja.

Sepertinya jarang sekali tulisan saya di Blogaholics berbau curhat seperti ini, mungkin karena saat ini masalah ini begitu mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Apakah kawan-kawan sependapat dengan pemikiran saya? Atau saya yang salah?

Mythomania : Jangan sering membual kalau tidak ingin sakit jiwa

membual, berbohong, omong besar, bullshit, cakap besar, pembohong, pembual, dongeng pembual, bualan, membual

Masih ingat dongeng yang menceritakan kisah tentang pembual? Biasanya di akhir cerita sang pembual akan ketahuan dan mendapatkan ganjaran akibat perbuatannya. Pembual menurut kesimpulan Blogaholics adalah orang yang suka mengucapkan bualan atau omong kosong, dan bisa juga orang yang melebih-lebihkan kenyataan sebenarnya.

Lalu apa hubungannya pembual dengan mythomania? Yang jelas mythomania bukanlah nama sebuah grup musik metal ataupun nama game online. Mythomania adalah keadaan dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk berbohong, melebih-lebihkan, bahkan memiliki daya imajinasi tinggi seolah hal tersebut benar-benar terjadi. Berdasarkan beberapa sumber, seseorang yang mengidap mythomania adalah orang yang mengidap gangguan mental. Menurut para ahli, hal ini biasanya terjadi pada orang yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, dan melakukannya dengan tujuan untuk memperoleh perhatian orang di sekitarnya.

Kalau boleh jujur, di sekitar kita tidak susah untuk mencari orang yang suka membual. Mulai dari skala ringan sampai kelas berat pun sering kita temukan. Sebenarnya membual merupakan suatu dorongan untuk memancing penilaian positif dan ketertarikan orang lain terhadap diri kita. Hanya saja dengan cara yang tidak benar, karena  dilakukan dengan berbohong dan melebih-lebihkan bahkan mengarang cerita. Bualan yang sering kita dengar biasanya adalah tentang memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau bualan seorang cowok pada cewek untuk membuatnya jatuh hati, dan juga bualan tentang status, penghasilan dan keadaan sosial si pembual.

Mungkin membual adalah hal yang biasa ketika hanya terjadi sekali, dua atau tiga kali. Bagaimana dengan orang yang disebut "tiada hari tanpa membual?" Mungkin inilah yang disebut dengan gangguan mental atau mythomania tersebut. Saya sendiri punya pengalaman dengan orang seperti ini, selalu memiliki cerita hebat tentang dirinya, tidak perduli apakah orang yang mendengar ceritanya mengetahui keadaan sebenarnya. Gawatnya lagi, banyak juga orang yang percaya dan begitu menghormati orang tersebut. Menurut saya, orang tersebut sudah masuk ke kategori kelas berat, karena baik dari pengucapan, gerak bibir dan mata yang biasanya diperhatikan untuk mengetahui seseorang berbohong, dia lolos dari semua itu. Entahlah apa saya yang kurang bisa membaca kondisi psikologis orang yang berbohong. Menurut saya juga, orang tersebut sudah sulit untuk membedakan antara kenyataan dan imajinasinya sendiri, karena pada kenyataan nya, hampir semua bualan yang diceritakan sangat jauh berbeda dengan keadaan sebenarnya. Parah ya?

Dalam kenyataan sebenarnya, saya sendiri bukan tidak pernah membual. Yang saya sadari adalah ketika merasa malu pada sebuah kenyataan tentang diri sendiri, hingga mengarang/melebih-lebihkan cerita untuk memberikan kesan yang lebih baik daripada kenyataan sebenarnya. Hingga akhirnya saya sadari bahwa hal tersebut hanya akan membuat kita merasa tidak sadar diri, rasa bersalah, tidak nyaman, gelisah, takut ketahuan, dan sebagainya. Kamu boleh bernafas lega ketika masih merasakan hal seperti saya sebut diatas. Karena itu berarti kamu masih memiliki kondisi psikis yang normal, belum terganggu. Kalau bualan seorang politikus atau pejabat negara, gimana? Mengenai ini saya tidak ingin berkomentar :)

Lalu bagaimana menyadarkan orang yang suka membual? Untuk kategori ringan, membantah dan pembuktian omongan mungkin akan membantu membuatnya jera dan berubah. Tapi untuk kategori mythomania, si pembual hanya akan menganggap kamu sebagai batu sandungan, dan akan tetap melakukannya pada orang lain. Kondisi seperti ini saya rasa solusinya adalah psikolog, karena sudah menyentuh kondisi kejiwaannya.

Jadi gimana? Saran saya, berhentilah membual dan jadilah diri kamu sendiri. Kamu mungkin bisa menghebohkan dunia dengan bualanmu, tapi tak cukup untuk membuatmu berharga di mata orang lain.

Bona Pasogit : Berkunjung ke Pulau Samosir

kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, toledo, riani ate


Akhirnya kesempatan untuk jalan-jalan saat liburan kesampaian juga. Kebetulan salah satu keluarga mengajak untuk berlibur ke Pulau Samosir di tengah-tengah Danau Toba. Meskipun awalnya agak malas karena menurut saya pasti rame dan macet karena suasana tahun baru, akhirnya saya bulatkan tekad karena memang sudah lama sekali tidak mengunjungi Danau Toba.



kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake










Singkat cerita, jam 4 pagi kami bergerak dari kota Pematangsiantar menuju Parapat. Sekitar pukul setengah enam pagi tiba di pelabuhan Ajibata untuk menyeberang ke Pulau Samosir dengan kapal feri. Sampai di Ajibata, ternyata sudah banyak mobil yang antri untuk menyeberang, tapi untunglah kami termasuk dalam antrian pertama yang akan diseberangkan. 

kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, keajaiban dunia










Diatas feri saja, mata sudah dimanjakan dengan pemandangan di sekitar Danau Toba, danau terbesar di Indonesia ini menurutku memang belum kehilangan daya tariknya. Sampai di pelabuhan Tomok, kami menuju ke arah Tuk-tuk untuk check-in di penginapan, lalu langsung menuju kota Pangururan untuk mandi air panas. Sehabis mandi pastinya perut terasa lapar, untungnya di pemandian air panas tersebut juga merangkap sebagai rumah makan. Dan menu kesukaan saya disitu adalah mie gomak, mie yang gendut, mirip spaghetti tapi menurut saya lebih enak :)

kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, pusuk buhit, sianjur mula-mula, pemandian air panaskapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, mandi air panas

Perjalanan berikut nya menuju desa Riani Ate di dekat kota Pangururan, makan siang masakan khas Samosir yaitu Ayam Pinadar. Wah, karena ingin cepat-cepat menghabiskan, saya jadi lupa mengambil foto makanan yang kami pesan :) Pemandangan di Riani Ate itu bagus sekali, saya sendiri tak puas hanya mengambil satu atau dua foto saja karena berbagai view yang membuat saya kagum. Ada sedikit rasa malu pada diri sendiri, memiliki darah Batak, tapi lebih sering mengunjungi tempat wisata daerah lain dibanding tanah leluhur.

kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lakekapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake


kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lakekapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake

Singkatnya, waktu seharian dihabiskan dalam perjalanan, menikmati pemandangan lalu kembali ke penginapan pada malam hari. Liburan yang singkat, namun cukup untuk mengobati rasa kangen pada keindahan alam di negeri tercinta ini.

kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, toledokapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, toledo
kapal feri, kapal, danau toba, pelabuhan, ajibata, wisata, parapat, sumatra utara, pariwisata, samosir, tomok, tuk-tuk, pangururan, toba lake, toledo

Kalau dipikir begitu banyaknya tempat-tempat menarik yang bisa dijadikan daerah wisata di negara ini yang tak kalah dengan daerah wisata di luar negeri. Hanya saja mungkin pemeliharaan, masalah keamanan dan kenyamanan, dan masalah akses kesana yang masih kurang baik, membuat minat wisatawan menurun. Sayang sekali, padahal daerah tujuan wisata di Indonesia harusnya bisa lebih diperhatikan agar berkembang menjadi daerah wisata berskala internasional.